[IIP] NHW #1 - Adab Menuntut Ilmu

NHW Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik (Materi 1 Adab Menuntut Ilmu, Institut Ibu Profesional). Menuntut ilmu bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di sekolah, di universitas, atau pendidikan formal lainnya. Kalau kata tokoh pelopor pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, "Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang adalah guru". Maka dari itu, bisa diumpamakan kalau hidup ini adalah universitas, dunia ini adalah kampusnya, setiap manusia adalah mahasiswanya, dan masalah hidup adalah ujiannya. Bedanya, masa studi kita tidak ada batasnya, selama kita hidup dan selama kita mau belajar. 

Nah kalau ditanya, di 'universitas kehidupan' ini, jurusan ilmu apa yang ingin kalian tekuni, kalian jawab apa? (eh kok nanya balik). Pada awalnya saya mendapat pertanyaan ini, jujur saja saya bingung. Jurusan? Di kehidupan? Dulu kuliah formal aja yang jurusannya terbatas saya bingung mau jurusan apa, apalagi dikehidupan yang ilmunya gak terbatas hahaha. Setelah mengikuti diskusi di kelas saya mendapat pencerahan, yang ingin kita tekuni di kehidupan harusnya adalah hal yang kita senangi dan membantu mencapai tujuan hidup kita. Maka dari itu setiap orang pasti memiliki jawaban tersendiri sesuai kesenangan dan tujuan pribadi masing-masing.



Setelah sampai merenenung dan memikirkan ini beberapa hari hehe, saya tau dan yakin bahwa ilmu yang ingin saya tekuni di kehidupan ini adalah ilmu berumah tangga.

"Berumah tangga ngapain dipelajari?" kalau dari materi 1 IIP, ilmu itu adalah prasyarat untuk sebuah amal, maka untuk berumah tangga yang baik sudah semestinya kita mempelajari ilmunya yang benar. Saya setuju dengan perkataan Bu Septi dalam website IIP (baca disini), bahwa seharusnya seorang ibu atau istri tidak takes for granted dalam melihat perannya sehingga tidak perlu bekal ilmu.

"Emangnya ilmu rumah tangga apa aja yang perlu dipelajari?" menurut saya banyak sekali 'mata kuliah' di jurusan ilmu rumah tangga yang harusnya dipelajari. 'Mata kuliah wajib' itu diantaranya adalah ilmu agama, finansial, parenting, komunikasi (termasuk belajar kerja sama, problem solving, conflict management, dan lain-lain), dan personal development. Rasanya ilmu-ilmu ini adalah 'kurikulum' yang lengkap untuk meningkatkan kualitas kita sebagai pribadi, istri, ibu, dan mahluk sosial.

"Gak terlalu luas pengen nekunin ilmu sebanyak itu, satu-satu dulu aja, komunikasi aja, atau parenting aja." hehe seru kan ya, namanya juga belajar selama hidup. Selain itu menurut saya ilmu-ilmu ini berkesinambungan satu sama lain, gak bisa dipisahin dalam membina rumah tangga yang baik. Kayak kalau dulu saya kuliah jurusan Arsitektur, buat sampai kita punya ilmu ngebangun suatu bangunan/rumah, kita gak bisa belajar ngedesain aja, harus belajar juga struktur, sejarah, konstruksi, lingkungan, manajemen proyek, utilitas, sampai human behavior, dan lain-lain. Kurang satu ilmu ya gak jalan bikin 'rumah'nya, atau kebangun sih tapi mungkin bocor-bocor sana sini, atau strukturnya gak kuat. Hehehe gitu lah menurut logika saya.

Selain hal-hal di atas, ada beberapa alasan lain sehingga saya ingin menekuni ilmu berumah tangga. Alasan dasarnya kembali lagi pada tujuan hidup di awal yaitu untuk mengejar ridho Allah dengan beribadah. Nah salah satu ibadah terlama dalam hidup itu salah satunya adalah berkeluarga. Waktu kita pun sehari-hari paling banyak dihabiskan dengan keluarga. Harapan saya dengan belajar ilmu rumah tangga, saya memahami syariat berkeluarga yang sadar akan kewajiban dan hak dalam perannya. Banyak sekali keistimewaan apabila dapat menjalankan peran sebagai istri dan ibu dengan baik dalam Islam (baca disini). Rumah tangga dengan ilmu seharunya bisa menjadi ladang pahala. 



Dalam 'universitas kehidupan' ini, perlu ada strategi dalam menuntut ilmu. Pasalnya sistem belajar tidak diatur seperti pada universitas formal atau punya peraturan seperti "kalau gak lulus-lulus, DO" hehe. Makanya hanya kita pribadi yang bisa menentukan ritme dan pace kita dalam belajar. Kalau mau makin pandai mengelola rumah tangga, ya harus rajin dong ya kan. Walau gak ada guru yang mengingatkan, gak ada nilai kelulusan mata kuliah, gak ada IPK. Yakin aja kalau apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai dan semuanya ada konsekuensinya, apalagi di akhirat hehe. Nah strategi bagi saya pribadi diantaranya:

  1. Lebih banyak mempelajari Al-Qur'an dan hadits karena merupakan pedoman hidup utama bagi umat Islam. Belajar dari tokoh panutan, Rasulullah saw dalam membangun rumah tangga dan mendidik anak.
  2. Membaca buku, artikel, jurnal dan mengikuti seminar, training, workshop dan komunitas yang bermanfaat dalam 'mata kuliah' dalam jurusan ilmu rumah tangga yang saya sebutkan di atas.
  3. Membuat gratitute journal mingguan sehingga mempunyai waktu khusus untuk bersyukur dan introspeksi hal apa yang perlu kita tingkatkan. Membiasakan bersyukur membuat perspektif menjadi positif.
  4. Mengamalkan ilmu dan learning by doing. Tidak hanya baca, ikut kelas, tapi berusaha semaksimal mungkin mengimplementasikan ilmu tersebut. 
  5. Mengatur prioritas. Saya teringat pernah membaca stories di Instagram teman saya @silviaanugrah yang membuat saya ingat sampai sekarang. Intinya bahwa kita sebagai istri, ibu atau calon ibu harus bisa membuat skala prioritas yang tepat, mengutamakan peran sebagai ibu dan istri terlebih dahulu, baru peran di kehidupan sosial, baru peran di karir. Kalau kita merasa keteteran, mungkin ada yang salah dengan prioritas kita.

"There is no way to be a perfect motherbut a million ways to be a good one" - Jill Churchill



Adab Menuntut Ilmu
Kalau sebelum amal syaratnya ilmu, sebelum ilmu syaratnya apa? Adab. Materi pertama dalam program matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #6 ini adalah mengenai adab menuntut ilmu. Kenapa kita perlu beradab dalam menuntut ilmu? Dengan beradab maka akan mudah memahami ilmu dan ilmu tersebut menjadi berkah. Setelah mendapatkan materi dan diskusi dengan teman-teman matrikulasi lalu introspeksi diri, rasanya banyak sekali hal yang perlu saya perbaiki dalam proses mencari ilmu, diantaranya:

  1. Meluruskan niat, untuk beribadah dan mencari ridho Allah. Banyak mohon ampun dan berdoa pada Allah dalam mencari ilmu karena kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar, tapi Allah yang menentukan.
  2. Ikhlas, membersihkan hati dari hal-buruk baik pada diri sendiri ataupun pada pemberi ilmu.
  3. Menghindari merasa paling tau dan lebih baik dari orang lain. Kalau hasil disuksi di kelas matrikulasi kemarin istilahnya 'kosongkan gelas'.
  4. Berpikiran terbuka terhadap masukan orang lain, misalnya walaupun ada yang berpendapat berpendapat berbeda dengan kita, tetap dijadikan masukan tanpa menyakiti hati orang lain tersebut.
  5. Menuntaskan ilmu yang sedang dipelajari, tidak belajar setengah-setengah. Saya ini anaknya kadang baca buku baru sampe setengah, bosan, lalu ganti, hehehe.
  6. Ingat untuk belajar sabar dalam menuntut ilmu, semua ada prosesnya :)

Semoga kita semua diberikan semangat dan kemudahan dalam menuntut ilmu ya, apapun ilmu itu selama dalam kebaikan tentunya hehe. Semoga saya juga bisa selalu memperbaiki adab dalam menuntut ilmu agar diberikan keberkahan. Thanks for reading! 

Nafisah Nur Azizah
Matrikulasi IIP Batch #6 Bandung 3

No comments