[IIP] NHW #3 - Membangun Peradaban dari Dalam Rumah



Materi sesi minggu ketiga program matrikulasi Institut Ibu Profesional adalah tentang membangun peradaban dari dalam rumah. Jadi dalam materi ini dijelaskan bahwa rumah adalah pondasi membangun peradaban, salah satunya adalah melalui pendidikan anak. Sekolah pertama dan utama anak itu seharusnya dimulai dari rumah. Maka dari itu peran sebagai orang tua seharusnya dijalankan dengan sungguh-sungguh. Dalam memahami peran keluarga dalam membangun peradaban ini, langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan mengetahui potensi masing-masing anggota keluarga dan lingkungan kita tinggal.



NHW kali ini sejujurnya lebih membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama bagi saya. Dalam NHW ini, salah satu poinnya adalah diminta membuat surat cinta untuk suami. Hehe bukannya gimana ya, saya orangnya gak romantis gitu, seumur-umur gak pernah buat surat cinta. Boro-boro surat cinta buibu, mikir kalimat buat caption di Instagram aja susah hehe :) Tapi setelah dipikir dan dilakukan, bikin surat cinta ini ada tujuan dan manfaatnya hehe.

Surat yang saya bikin maaf maaf aja rasanya gak perlu dilampirkan untuk publik ya hehehe. Cukup pak suami aja yang baca :) Walau gak puitis kayak puisi-puisi atau ala-ala surat cinta romantis pada umumnya, tapi beneran deh dalam proses pengerjaannya bikin baper sampe saya nangis (lah curhat). Eh mungkin karena pengaruh hormon hamil juga ya jadi emosional (pembelaan). Dengan bikin surat ini, yang saya rasakan adalah kita dibuat 'jatuh cinta' lagi, lebih fokus pada kebaikan dan kelebihan suami dibanding ingat-ingat kekurangannya, serta mensyukuri kehadiran dan hal-hal yang dia lakukan untuk saya selama ini.

Saya memberikan surat via email berupa pdf dan dikirim saat pak suami sedang di kantor. Tapi saya tentu memintanya supaya baca dengan serius. Sedih dong kalau udah nulis panjang-panjang sampai 2 halaman hvs (surat cinta apa curhat bu?) tapi gak dibaca serius ya kan. Kira-kira jam makan siang saya dapat balasan. In sum, he said my letter is very sweet and he'd like to cry a little bit but since he is in the office he couldn't do that. Then he said he was thankful. So happy cintaku gak bertepuk sebelah tangan ❤



Selanjutnya adalah memahami potensi pada anak. Dengan memahami potensi anak, orang tua nantinya akan mengetahui program dan kurikulum pendidikan macam apa yang paling cocok dengan setiap anak karena bakat pada setiap anak berbeda satu sama lain. Misalnya dalam mengetahui tipe belajar anak, salah satu pendekatannya orang tua bisa mengenali apakah anaknya memiliki tipe belajar visual, auditory atau kinestetik. Dengan begitu orang tua dapat memaksimalkan potensi dan pendekatan anak dalam belajar. Nah karena kondisinya saat ini saya masih mengandung, saya skip dulu petanyaan ke dua di NHW ini ya hehe. Insya Allah saat anaknya sudah lahir dan cukup besar, saya akan berusaha memahami potensi anak saya.



Selain suami dan anak, yang paling penting adalah memahami diri sendiri supaya kita bisa 'membaca' kenapa kita dilahirkan di tengah-tengah keluarga ini. Setiap orang tentu memiliki kekuatan dan kekurangan, yang saya rasakan, saya dan pak suami saling tambal-sulam kekurangan itu dengan kekuatan masing-masing. Saya jadi ingat waktu pertama kali bilang salah satu teman saya kalau saya pacaran dengan pak suami. Dia sama sekali gak nyangka trus sampe bilang masa gunung es bisa sama petasan mercon (HAHAHA jahat gak, tentu saya petasan merconnya). Segitunya karena beda banget personalitynya.

Didalam surat yang saya bikin tentu lebih lengkap ya. Tapi secara singkat, saya merasa terbantu oleh kelebihan sifat pak suami dalam menghadapi masalah. Misalnya kalau saya cenderung khawatir dan pessimistic menghadapi sesuatu, dia orangnya optimistic dan hopeful. Kalau saya kurang sabar dan berapi-api, dia sabar dan memadamkan api hehe. Kalau panikan dan stress managenment saya kurang, dia bisa membuat saya less stress, tenang dan lebih menikmati hidup.

Nah kalau mengetahui kelebihan yang spesial dari diri kita gimana caranya? Kalau dalam diskusi kelas, salah satunya kita bisa mengetahui suatu kelebihan kalau menjalankan suatu aktivitas dengan 4E (enjoy, earn, easy, and excellent). Cara lain yg saya lakukan, saya biasa ikut test-test personalities gitu, sekalian minta pak suami kerjain juga hehe (di 16 Personalities atau di talentoday). Jadi bisa saling baca aja reviewnya biar lebih memahami satu sama lain.

Menurut saya terdapat beberapa kelebihan dalam diri yang bisa bermanfaat untuk keluarga saya terutama pak suami. Saya orangnya termasuk rapi dan orderly, sifat saya ini mengimbangi pak suami yang agak disorganize dan cenderung nyimpan barang sembarangan, apalagi di rumah hehehe. Kalau pak suami orangnya spontaneous, saya cenderung organised dan harus planning sesuatu. Misalnya mau pergi atau liburan, saya lebih planning  kemana saja dan apa saja yang harus dibawa. Dalam hal keuangan, karena saya detail, saya rajin mereview dan membuat laporan finansial keluarga. Selain itu karena saya orangnya talkative dan voice my feeling easily, saya bisa lights up the room, mencairkan gunung es hehe.



Dalam 18 bulan pernikahan, 12 bulannya kami menjalani LDM (long distance marriage). Sejak 2 bulan yang lalu, karena sesuatu saya dan suami kembali menjalani LDM. Saat ini pak suami tinggal di Surabaya dan saya kembali ke Bandung dengan orang tua saya. Kalau boleh milih dan bisa sih tentu saya lebih ingin tinggal bersama ya, tiap hari ketemu dan bareng-bareng hehe. Tapi saya percaya aja kalau Allah punya rencana dan jalan yang terbaik untuk kami. Salah satunya saya jadi bisa menemani orang tua saya lagi di rumah karena adik saya baru saja mulai kuliah dan tidak tinggal di rumah.

Rumah orang tua ini sudah kami tinggali sekitar 21 tahun, sudah lama ya :) Lingkungan rumah disini sebenarnya jarang bersosialisasi satu sama lain karena pada sibuk bekerja dan jarang dirumah. Walaupun begitu, saya kenal dengan tetangga sekitar, minimal yang ada disekitar saya. Kalau ada masalah pun Alhamdulillah saya tidak sungkan minta bantuan tetangga sekitar dan dibantu. Namun biasanya yang ikut acara RT atau acara komplek ya bapak ibu saya aja hehe. Jujur saja saat ini saya masih bingung sih kalau ditanya tantangan apa yang ada disini dan kontribusi apa yang saya pribadi bisa lakukan. Sementara ini yang saya bisa lakukan adalah menjadi tetangga yang baik dan berpikir lagi bagaimana agar saya bisa lebih bermanfaat bagi lingkungan.


Nafisah Nur Azizah
Matrikulasi IIP Batch #6 Bandung 3

No comments