[IIP] NHW #5 - Learning How to Learn

Institut Ibu Profesional

Pada NHW minggu ke lima, para peserta matrikulasi diminta mempraktekan membuat desain pembelajaran sendiri. Pada materi atau soal, gak ada panduan ataupun contohnya. Kami diminta memunculkan rasa ingin tahu tentang apa itu desain pembelajaran dan menginterpretasikan sendiri. Hehe jujur aja waktu saya baca soalnya, saya bingung apa sih maksud pertanyaannya. Tapi itu kali ya esensinya, biar belajar caranya belajar (makin bingung gak). Ok, let's try!

Hal pertama yang saya lakukan adalah cari referensi, cari tau dulu apa itu desain pembelajaran. Menurut IGI Global Disseminator of Knowledge, desain pembelajaran adalah penjelasan tentang urutan kegiatan yang dilakukan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran, termasuk sumber daya dan mekanisme dukungan yang diperlukan untuk membantu peserta didik menyelesaikan kegiatannya [4]. Di samping itu, menurut Australian Catholic University, desain pembelajaran melibatkan pilihan apa, kapan, dimana, dan bagaimana cara mengajar serta melibatkan keputusan tentang konten, struktur, waktu, strategi pedagogis, urutan kegiatan pembelajaran, jenis dan frekuensi penilaian, serta teknologi yang digunakan untuk mendukung pembelajaran [1].

Dari penjelasan di atas, secara singkat desain pembelajaran adalah rencana atau kerangka (framework) yang dibuat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan membuat kerangka ini kita bisa melihat 'bird-eye view' komponen atau variabel yang diperlukan dalam pembelajaran. Menurut saya, tidak ada yang benar atau salah dalam membuat desain pembelajaran. Desain pembelajaran seharusnya dibuat spesifik untuk konteks variabel tertentu. Misalnya desain untuk belajar olahraga berbeda dengan belajar matematika, desain untuk anak A berbeda dengan anak B. 

Saya melihat analogi menarik yang ditulis oleh Schroeder (2017) mengenai pentingnya membuat kerangka pembelajaran seperti membangun rumah [5]. Sebelum memulai membangun, harunsya seseorang punya vision tentang rumah seperti apa yang diinginkan. Baru dari situ bekerja dengan arsitek menggambar denah, dimana letak ruang, berapa besar ruang, material dan warna cat apa yang akan digunakan. Selain itu membuat schedule kapan pembangunannya dilaksanakan, berapa biaya yang kira-kira diperlukan, siapa yang akan membangunnya, dan lain-lain. Dengan begitu ketika proses pembangunan dimulai, kontraktor bisa melakukan eksekusi dengan sebuah rencana yang matang. Hal ini membuat membangun 'rumah' menjadi lebih efektif, efisien, dan vision kita tercapai.

Photo by Pexels
Secara teori terdapat beberapa pendekatan jenis framework yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran [2]. Setelah membaca beberapa model, akhirnya saya tidak berpatokan pada satu model, namun lebih mengombinasikan beberapa model dan meramu sendiri model yang saya rasa works best for me. Tahapan desain pembelajaran saya bagi menjadi tahap analisis, desain, implementasi, evaluasi dan revisi.

Analisis
Terdapat beberapa pertanyaan dasar yang perlu dijawab pada tahap awal membuat kerangka pembelajaran:

  • Learner. Siapa yang melakukan proses pembelajaran? Bagaimana tingkat pengetahuan dan pengalamannya? Apa minat, bakat dan potensinya? Bagaimana preferensi cara belajarnya learning style (visual, auditori, kinestetik) atau learning domainnya (kognitif, afektif, psikomotorik)?
  • Tujuan. Apa tujuan dari pembelajaran ini? Kenapa harus mempelajari hal tersebut? Kemampuan, pengetahuan, atau sikap apa yang ingin dicapai dari pembelajaran ini?
  • Limiting factorBatasan atau faktor hambatan apa yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan? Misalnya sumber daya, waktu, finansial.

Jika dihubungkan dengan program matrikulasi; materi, diskusi kelas dan pengerjaan NHW secara tidak langsung merupakan bagian dari desain pembelajaran ini. Misalnya pada NHW #1 kita menentukan tujuan dan alasan pembelajaran dan pada NHW #3 kita melalui proses memahami diri kita sebagai pembelajar.

Desain
Tahap ini menentukan semua konten, perencanaan pembelajaran, instrumen penilaian, alat, sumber daya dan waktu yang mendukung mencapai tujuan. Beberapa hal yang perlu ditentukan misalnya:

  • Konten. Secara rinci, materia apa saja yang perlu dipelajari untuk mencapai tujuan?
  • Waktu. Kapan pembelajaran dimulai? Kapan evaluasi dan target tujuan tercapai? Kapan dan bagaimana frekuensi waktu belajarnya? 
  • Media. Media apa yang digunakan untuk proses belajar? Apa berupa buku, video, artikel, social media dan lain-lain?
  • Aktivitas. Aktivitas apa saja yang dilakukan dalam pembelajaran?
  • Tempat. Dimana atau darimana bisa mendapatkan ilmunya?
  • Metode. Bagaimana metode belajarnya? Apakah dengan membaca, diskusi, ikut workshop, praktek?
  • Penilaian. Bagaimana metode penilaian bahwa tujuan tercapai?

Untuk tahap ini rasanya terkandung juga dibeberapa pengerjaan NHW. NHW #1 kita membuat strategi belajar, media, aktivitas, dan metode apa yang digunakan. NHW #2 kita membuat penilaian ketercapaian berupa checklist. Sedangkan pada NHW #4 kita belajar membuat konten materi yang diperlukan serta milestone dalam mencapai tujuan tersebut.

Implementasi
Implementasi dan pastikan desain yang dibuat dapat dieksekusi. Jangan cuma rencana-rencana doang hehe. Pada perjalanannya, menurut saya perlu dilakukan progress monitoring, bagaimana ketercapaian dari rencana yang dibuat. Be flexible, tentu pada perjalanannya kenyataan tak seindah rencana :) Pembuatan monitoring ini nantinya akan berguna untuk evaluasi dan berguna apabila ditengah jalan memutuskan apakah harus dilakukan revisi waktu, sumber daya, dan lain-lain? Yang penting tujuan pembelajarannya diusahakan tercapai.

Evaluasi dan Revisi
Tahap evaluasi dilakukan untuk memaksimalkan pencapaian dan hasil belajar. Dilihat kembali apakah tujuan pembelajaran tercapai atau tidak. Lalu evaluasi dalam proses pembelajaran, komponen apa saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan untuk desain pembelajaran berikutnya. 



Dalam proses analisis, desain, implementasi, dan evaluasi penting memastikan bahwa learner berperan aktif dan terlibat dalam prosesnya secara langsung. Menurut Global Learning Partners, proses belajar mengajar yang hanya dilakukan one-sided (experts talks, learner listens) tidak akan bertahan lama. Sedangkan ketika seseorang ikut secara aktif dalam pengambilan keputusan pembelajaran mereka sendiri, perkembangan pembelajarannya menjadi lebih nyata dan bertahan jangka panjang [3].  Jadi kalau kita buat desain pembelajaran sendiri sih gak ada masalah ya. Tapi misalnya kita buat untuk anak, atau orang lain, dari awal mereka harus membuat individual goals sendiri dengan begitu merasa lebih ter-encourage untuk belajar. Atau pada saat evaluasi kita bisa tau feedback proses pembelajaran menurut mereka.

"Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn." - Benjamin Franklin



Sumber:
[1] Australian Catholic University. (n.d.). Key Concepts in Learning Design. https://leocontent.acu.edu.au/file/22207b30-7a02-4e71-8948-7ed523bef6fd/3/html/ddv_1_20.html diakses 30 Agustus 2018.
[2] Culatta, Richard. (n.d.). Instructional Design Models. http://www.instructionaldesign.org/models/ diakses 30 Agustuts 2018.
[3] Global Learning Partners. (n.d.). About Dialogue Education. http://www.globallearningpartners.com/about/about-dialogue-education/ diakses 31 Agustus 2018.
[4] IGI Global. (n.d.). What Learning Design. https://www.igi-global.com/dictionary/designing-learning-objects-generic-web/16853 diakses 30 Agustus 2018.
[5] Schroeder, Peter. (2017). 5 Steps To Follow When Using An Instructional Design Framework For Your Online Courses. https://elearningindustry.com/instructional-design-framework-for-your-online-courses-5-steps-follow-using diakses 30 Agustus 2018.

Nafisah Nur Azizah
Matrikulasi IIP Batch #6 Bandung 3

No comments